Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

SYIAH DALAM RENTANGAN BENDERA ALI KERAJAAN CIREBON

Prolog

    Perang Iran melawan Amerika-Israel dan sekutunya mencuatkan kembali minat masyarakat terhadap kajian tentang Syiah, madzhab yang dianut oleh mayoritas muslim Iran Saat ini. Sebelumnya di era tahun 1980-an atau pasca Revolusi Islam Iran gelora serupa mendorong gerakan memakai hijab sebagai tren baru dalam mengamalkan nilai-nilai islam pada muslimah nusantara.  Publikasi media massa, kajian akademis dan forum ilmiah kemudian mengisi memori dan persepsi keagamaan masyarakat saat itu. Namun seiring konstelasi politik global dimana Amerika, Barat, zionis dan sekutunya menjadikan syiah dan revolusi Islam Iran sebagai musuh utama, muncul proyek propaganda mendiskreditkan syiah dan iran dalam panggung politik global. Gerakan terogranisir mengelabui opini masyarakat antara lain dengan beraneka tuduhan palsu dan bahkan fitnah ini dilakukan pula oleh kaki tangan zionis melalui aktor berbaju agama termasuk di Indonesia. target utamanya untuk menciptakan perpecahan umat islam dan menjauhkan dukungan terhadap muslim syiah yang teguh melawan tirani global. ledakan perlawanan Iran sejak awal Maret lalu menghentakkan kesadaran bahwa ternyata selama ini sebagian masyarakat muslim telah terinfeksi semacam virus kebohongan yang dihembuskan melalui corong propaganda musuh Islam yang sesungguhnya.

    Syiah sebenarnya bukan entitas asing dalam sejarah dan kebudayaan Islam di Indonesia. Pengaruhnya seperti memuliakan Ahl-Bait Nabi, corak tasawuf wahdatul wujud dan peringatan kesyahidan Imam Husen di Karbala-Asyuro, telah mentradisi di kehidupan masyarakat. Sayangnya karena propaganda asing, umumnya umat islam tidak memahami hal tersebut. Satu teori seperti pada pandangan Prof Abu Bakar Atjeh bahkan  menyatakan Syiah lebih dahulu hadir di Indonesia sebelum aliran lainnya. Jejaknya dapat ditelusuri melalui manuskrip ataupun pada ragam budaya di banyak belahan nusantara. Pengaruh syiah terutama berasal dari kawasan yang disebut Negeri Atas Angin khususnya Persia dan Irak seperti Isfahan, Kasyan,  Lorestan, Hamadan, Khurasan, Tabriz, Kufah dan Bagdad.  Pasang surut minat masyarakat terhadap fenomena syiah menjadi semacam hasil interaksi bawah sadar pengalaman masa lalu dengan momentum yang terjadi disaat ini.

    Di era kerajaan nusantara terdapat kesultanan yang ditengarai menjadikan syiah sebagai salah satu madzhab resmi negara. Kesultanan semacam ini tidak hanya mengimplementasikan prinsip ajaran Ahl-Bait pada kehidupan sosial, tetapi juga memasukannya dalam pranata pemerintahan yang antara lain tercermin melalui penggunaan simbol-simbol syiah untuk identitas negara. Kerajaan Cirebon hingga periode Panembahan Ratu dengan Bendera Ali-nya merupakan salah satu kesultanan nusantara bercorak syiah tersebut. Berikut ulasannya dari sudut Mengeja Ulang Sejarah.

Atribut Syiah dan Makna Lambang Kesultanan Cirebon

    Selain Perlak di Sumatera hingga abad ke-13 dan Pajang Jawa Tengah abad ke-16, Cirebon merupakan Kesultanan Islam berwarna Syiah yang disebutkan pada banyak sumber tradisional. Simbolisasi Macan dan Pedang Zulfaqar pada bendera kerajaan Cirebon menguatkan pandangan ini. Annemerie Schimmel pakar kajian tasawuf dan mistik Islam asal Jerman melalui karya Dimensi Mistik Dalam Islam menyatakan, kalimat-kalimat yang berkaitan dengan Imam Ali-Sang Singa Allah, biasa dibentuk berupa gambar Singa, suatu perlambang yang terdapat pada pesantren-pesantren Bekhtasi dan di seluruh dunia Syiah. Sejarawan Hasan Muarif Ambari dan Arkeolog Islam Uka Tjandrasasmita dalam Arkeologi Islam Nusantara mengakui corak syiah pada Kesultanan Cirebon selain tercermin pada panji negara juga terungkap melalui ragam seni terutama ornamen mushaf Al-Quran versi kesultanan.

    Kesultanan Perlak yang disimbolkan dengan Singa dikelilingi dua belas nama imam syiah mencirikan kerajaan itu mengadopsi Syiah Imamiyah dalam tatanan kenegaraan. Bendera Ali Kesultanan Cirebon meskipun tidak mencantumkan nama-nama imam syiah, namun pengibarannya selalu disertai dua belas umbul. Sebagai simbol kenegaraan, Macan Ali merupakan hasil interaksi dan akumulasi berbagai unsur peradaban seperti ilmu pengetahuan, filosofi, norma sosial, seni-budaya dan tatanan politik. Macan dan Pedang Zulfaqar menjadi penanda bahwa Kesultanan Cirebon menempatkan nilai-nilai keadilan, keberanian, kezuhudan, dan otoritas spiritual yang dipresentasikan pada figur Imam Ali, sebagai pedoman menyelenggarakan kekuasaan. Satu hadits mengibaratkan Nabi Muhammad sebagai kota Ilmu dan Ali adalah pintunya.

    Panji Kesultanan Cirebon mendeskripsikan Imam Ali dengan macan. Adapun dua macan lebih kecil melambangkan Imam Hasan dan Imam Husen. Selain Zulfaqar pedang pemberian Kanjeng Nabi, di ujung bendera tertera Bintang Sudut lima. Bintang lima ini pengingat umat Islam tentang kedudukan Ahl-Bait Nabi sebagaimana Kanjeng Rosul menegaskan "Bintang-bintang itu pengaman penduduk langit dan Ahli-Baitku pengaman penduduk bumi." Lima figur Ahl-Bait atau Ahlul Kissa menurut tafsir Ayat Tathir Al-Ahzab Ayat 33 terdiri atas Kanjeng Nabi, Sayyidah Fatimah, Imam Ali, Imam Hasan dan Imam Husein. Bintang lima bendera Cirebon tidak memiliki kaitan sejarah dengan negeri Maroko yang kebetulan juga mencantumkan Bintang lima pada lambang negara mereka. Bintang lima warna hijau milik Negera Afrika Utara ini baru ditambahkan tahun 1915 dan diresmikan setelah kemerdekaannya dari Perancis dan Spanyol tahun 1956.

    Historiografi Cirebon tidak merinci kapan Bendera Ali mulai dibentangkan sebagai lambang negara, tetapi Sejarah Peteng Sejarah Rante Martabat Tembung Wali menceritakan Macan Ali dikibarkan bersama dua belas umbul warna-warni pada upacara pernikahan Ratu Ayu putri Sunan Gunung Jati dengan Bagus Pase panglima Demak asal Pasai yang juga seorang Khoja. Pelancong Portugis Tome Pires menyebutnya Pate Codia Bandar Losari. Naskah Kaprabonan tentang Asal-Usul Kesultanan Cirebon mengindentifikasi tokoh ini sebagai Ki Supetak pendiri Dinasti Gebang. Gelar Khoja pada Bagus Pasai menunjukkan tokoh ini memiliki kaitan dengan Persia, mursyid tarekat ataupun Tasawuf Syiah.

Hauzah Giri Amparat Jati dan Transmisi Keilmuan Ahl-Bait

    Simbolisasi angka duabelas muncul juga pada penggalan riwayat Syekh Nur Jati guru sekaligus mertua Sunan Gunung Jati. Naskah Cirebon seperti Sejarah Wali Sunan Gunung Jati Naskah Mertasinga, Martabat Tembung Wali, Naskah Pulasaren, Negara Kertabumi juga Koleksi Naskah Keraton Kasepuhan tokoh yang dikenal sebagai Syekh Dzatul Kahfi setelah berhidmat di Makah-Madinah menetap di Persia. Ia belajar pada Syekh Junaid al-Baghdadi sebelum kemudian  oleh penguasa Iran saat itu diutus ke Cirebon didampingi dua belas utusan sang raja. Dilihat periode hidupnya abad 14-15 M, Syekh Junaid ini tentu bukanlah Syekh Junaid Al-Baghdadi murid Syekh Siri As-Saqti yang hidup di abad 10-11 M, tetapi mursyid Tarekat Safawiyah yang juga kakek dari Syah Ismail I pendiri Dinasti Safawi Iran. Syah Ismail I mendeklarasikan Syiah Dua belas Imam sebagai madzhab resmi serta menggunakan Singa dan Pedang untuk lambang negara.

    Di Bukit Amparan Jati Syekh Dzatul Kahfi mendirikan hauzah tasawuf  bercorak wujudiyah dan martabat tujuh dimana salah satu murid terkenalnya Syekh Siti Jenar penganut Syiah Imamiyah era Walisongo. Historiografi Cirebon mendaulat Syekh NurJati dengan gelar Maulana Idhofi Mahdi karena keterkaitannya dengan konsepsi tentang Imam Mahdi. Angka Dua belas utusan Persia yang mengiringinya ke Jawa merupakan semacam cara sejarah mengalegorikan pengajaran Syekh NurJati dengan keyakinan Syiah Dua Belas Imam. Di peguronnya Maulana Idhofi Mahdi memiliki ruang bawah tanah (rubanah) mirip gua-yang karenanya Ia dijuluki Syekh Dzatul Kahfi, dan dua sumur tempat sebagian masyarakat melakukan ritual ngalap berkah (tabarruk). Dua hal itu dapat diasosiasikan rubanah tempat kelahiran Imam Muhammad Al-Mahdi  yang juga kediaman Sang ayah Imam Hasan Al-Askari di Samara Irak.

    Dalam Naskah tradisional dan babad Cirebon Syekh Nur Jati lebih dinarasikan sebagai penganut Tarekat Sattariyah disamping beberapa tarekat lainnya. Deskripsi ini tidak sepenuhnya sesuai dengan informasi sejarah yang menunjukkan Sattariyah baru masuk ke Cirebon abad 17-18 M melalui jalur Syekh Abdul Muhyi Pamijahan murid Syekh Abrurrouf Singkel dan Abdullah bin Abdul Qohhar seorang mufti asal Banten. Di Mekah dan Madinah Sattariyah dipopulerkan oleh Ibrahim Kurani abad 17. Meskipun begitu terdapat beberapa kesamaan pengajaran Syekh Nur Jati dengan doktrin Sattariyah yang bercorak wujudiyah dan kedudukan wilayah ahl-bait nabi yang mencirikan tipikal tasawuf Syiah (Bersambung)

Posting Komentar untuk "SYIAH DALAM RENTANGAN BENDERA ALI KERAJAAN CIREBON"