KERAJAAN SUNDA, BANTEN, PELABUHAN KALAPA MENURUT EJAAN CLAUDE GUILLOT (2)
Prolog
Sebagaimana anggapan Kerajaan Sunda bukanlah Banten dan wilayahnya mencakup seluruh bagian barat Pulau Jawa, keyakinan bahwa penguasa Sunda saat itu bernama Raja Samiam dan Kelapa adalah pelabuhan di Jakarta merupakan kekeliruan dalam memahami teks asli perjanjian Sunda-Portugis tahun 1522. Kesilapan semacam ini berawal dari tafsiran sejarawan terhadap kronik Decadas De Asia karya Joao de Barros penulis istana Lisboa, dan kronikus Portugis lainnya Diogo do Couto, yang kemudian menjadi semacam versi baku Sejarah Sunda. Berbeda dengan Tome Pires penulis Suma Oriental, Barros menyusun kronik hanya berdasar arsip resmi kerajaan menyangkut upaya legitimasi kolonialisme Portugis terhadap negara jajahan, tanpa pernah mengunjungi kawasan yang dilaporkannya. Itu sebabnya dia kesulitan menerangkan secara akurat nama-nama tempat dan orang yang terlibat dalam perjanjian. Masalah serupa dihadapi Couto yang sama sekali belum pernah mengunjungi Kerajaan Sunda ataupun Pulau jawa.
Melalui kajian manuskrip juga observasi lapangan serta didukung sumber primer seperti teks perjanjian yang tersimpan di Arsip Nasional Lisabon (terbit pertama kali oleh Jose Rames Coelho tahun 1892), Claude Guillot menjelaskan bagaimana semestinya isi perjanjian Sunda-Portugis ditafsirkan. Telaahnya menjadi semacam ejaan baru untuk memahami peristiwa monumental yang sering dianggap sebagai titik nol relasi Sunda-Islam di barat pulau Jawa ini. Bahkan dibandingkan ulasan-ulasan sejarawan sebelumnya, penjabaran sejarawan Perancis ini lebih sebangun dengan maksud sesungguhnya isi perjanjian. Temuan pentingnya antara lain Calapa tempat orang Portugis mendirikan padrao ternyata terletak bukan di Jakarta saat ini. Begitu juga Pelabuhan dimana Henrique Leme dan Raja Sunda menandatangani perjanjian berbeda dengan tempat padrao dipancangkan (Kalapa), tetapi pelabuhan Sunda yang sekarang berada di kota Banten. Pelabuhan Sunda dan Kalapa juga dua nama tempat yang berbeda lokasi. Berikut pembahasannya.
Perjanjian Sunda-Portugis Tahun 1522 Dalam Perbandingan Narasi
1) Riwayat Kembar Barros-Cuoto
Pengetahuan ataupun informasi mengenai perjanjian Portugis-Sunda tahun 1522 terutama berasal dari kronik yang disusun dua penulis Portugis beda generasi yakni Joao de Barros dan Diogo De Couto. Decadas De Asia versi Barros diterbitkan pada 1552 dan 1615. Sedangkan edisi lanjutannya oleh Couto terbit antara 1778-1788. Meskipun begitu tidak sedikit perbedaan penjelasan diantara keduanya, terutama menyangkut lokasi dan nama tempat, jabatan para pihak Sunda yang terlibat perjanjian.
Barros menceritakan tahun 1522 Jorge d Albuquerqe Kapiten Portugis di Malaka mengutus Henrique Lame menghadap Samiam, Raja Sunda. Saat tiba di "Pelabuhannya", Sang Raja menerima dengan baik orang-orang Portugis yang akan memperkuat hubungan dagang dan bantuan dalam menghadapi peperangan melawan orang Islam. Portugis diijinkan mendirikan benteng serta mendapatkan konsesi 1.000 karung lada setiap tahun. Tiga orang menteri lokal yang hadir dalam pembicaraan adalah "Mandari Tadam, Tamungo Sague de Pati, dan Bongar Syahbandar setempat". Atas perintah Raja mereka mengantar Leme ke tempat akan dibangun benteng, di sebelah kanan muara sungai pada kawasan yang dinamai Calapa. Disana orang Portugis mendirikan Padrao. Setelah Leme kembali ke Malaka, Jorge de Al-Querque meminta dukungan Raja Portugal Joao III yang kemudian mempercayakan pada Francico de Sa untuk berangkat dengan armada pimpinan Vasco Da Gama. Karena Da Gama wafat De Sa kemudian diberi tugas yang lain. Setiba di Malaka ia bergabung dengan pasukan Pero Mascarenhas mempersiapkan serangan terhadap pulau Bintan. Selesai peperangan de Sa menuju "Sunda". Armadanya dihantam badai, salah seorang Kapten bernama Duarte Coelho berhasil sampai di Calapa namun semua penumpang dibunuh oleh orang-orang Islam yang beberapa hari sebelumnya merebut kota dari Raja sahabat Portugis.
Sementara itu De Couto mengungkapkan, setelah bergabung dengan ekspedisi Pero Mascarenhas melawan Bintan, De Sa berlayar menuju "Sunda" untuk membangun benteng. Selama pelayaran armadanya dihantam badai hingga kapal-kapalnya saling terpencar. Satu siantara, yang dipimpin De Coulho dan dua lainnya dengan susah payah berhasil tiba di Pelabuhan "Sunda". Dalam hal ini Cuoto tidak menyebut nama Calapa. Sewaktu terserang badai itulah tigapuluh orang Portugis berenang menuju pantai mereka dibunuh oleh musuh, orang Islam. Sebenarnya raja yang menghendaki pendirian benteng telah meninggal dan musuh yang diperanginya sudah berada di Banta, kota terpenting kerajaan untuk ditaklukkan. Begitu melihat orang-orang Portugis mereka berusaha membalas dendam karena mengetahui bahwa raja yang meninggal itu memberi ijin mendirikan benteng di Pelabuhan tersebut. Setelah menyaksikan apa yang menimpa awak kapal, Duerto Coelho bertolak kembali ke Malaka. Kapal Francisco de Sa terbawa badai sampai di pantai Jawa. ia berhasil menghimpun kapal-kapal lainnya di pelabuhan Panarukan dan membawanya menuju pelabuhan Bata. Di hadapan penolakan raja Sunda setelah dia mengirim utusan, Francisco de Sa memutuskan menyerang, tetapi mendapat perlawanan yang sangat kuat dari darat. Karena banyak korban terluka dan terbunuh dari pihak portugis, dia mengundurkan diri dan kembali ke Malaka.
Dari ringkasan laporan tentang ekspedisi Francisco de Sa terdapat ketidaksesuaian satu sama lain. Gulliot berpendapat meskipun kedua penulis Portugis tersebut dianggap luar biasa, namun sesungguhnya tidak mengenal Pulau Jawa, sehingga menghadapi kesulitan mengidentitikasi tempat bagi yang tidak mengenali situasi di bagian barat Jawa.
2) Penafsiran Umum
Terhadap teks-teks tersebut Gulliot menilai, sejarawan seperti Verth, Rouffaer, Hoesein Djajadiningrat dan De Haan sepakat menafsirkan bahwa kerajaan Sunda yang disebut adalah Pajajaran dimana rajanya bersemayam di Pakuan (Bogor), dan Pelabuhan Sunda adalah Kalapa Jakarta. Semua peristiwa dari perundingan utusan Portugis dengan pejabat Sunda, pemancangan pedrao oleh Leme, pendaratan gagal Franciso de Sa, hingga pertempuran Portugis dengan pasukan Islam semua terjadi di kawasan Pakuan dan Kalapa.
Meskipun sempat diragukan pertama kali oleh Rouffaer, versi penafsiran umum ini kemudian menjadi semacam pemahaman yang dibakukan pada banyak karya sejarawan dalam menjelaskan konteks perjanjian Sunda-Portugis dan relasinya dengan kehadiran entitas Islam di bagian barat pulau Jawa.
3) Ringkasan Teks Asli Perjanjian
Untuk memudahkan telaahnya Gulliot memetakan butir-butir utama perjanjian dalam ringkasan sebagai berikut:
Tanggal : 21 Agustus 1522
Tempat : Henrique Leme berada di “Pelabuhan Sunda” (neste porto deCumda)
Perunding Setempat : “ Menteri Utama Padam Tumungo” dua orang menteri lainnya Samgydipati dan Bengar serta Syahbandar Fabyam”. Ini berarti mungkin Panjang (?) Tumenggung, Sang Adipati, Bengal (nama negeri asal orang tersebut), dan Pabean.
Perjanjian : “Raja Sunda” (el rey de Cumda) memberi hak pada Portugis untuk membangun sebuah benteng “di negerinya” (em sua terra). Selain itu raja Sunda tersebut menyatakan bersedia memberikan seribu karung lada, sama dengan kira-kira 160 bahar setiap tahun kepada Portugal, terhitung sejak dimulainya pembangunan benteng.
Lokasi Benteng : “Di tepi kanan sebuah muara sungai, di tempat yang bernama Calapa” (na boca do rio a mao direita de fromte da barra aa qual terra se chama Calapa).
Padrao : Leme menceritakan bahwa orang Portugis dan para menteri “berangkat untuk mendirikan” (forom arfoar) padrao-nya dari batu..dengan lambang kebesaran Raja potugis (huum padram de pedra..com as armas d’El/Rey nosso senhor) di tempat benteng akan didirikan.
4) Bacaan Gulliot Atas Teks Perjanjian Sunda-Portugis
Berdasarkan naskah asli Gulliot menunjukkan bahwa penafsiran umum yang dianggap baku dalam penulisan sejarah sesungguhnya mengandung masalalah terutama jika secara tekstual dieja kata perkata, kroscek dengan dokumen sejaman ataupun melalui studi demografi terhadap nama tempat, orang dan lokasi yang disebutkan dalam perjanjian. Sebagian hasil telaahnya dirinci sebagai berikut:
1) Pelabuhan Sunda tempat Leme dan Raja Sunda mengadakan berjanjian berada di kota Banten. Joao de Barros hanya menyebutkan di Pelabuhan Sunda, tetapi de Couto menegaskan Pelabuhan Sunda sebenarnya adalah Banten. Keyakinan Couto diperkuat oleh saksi mata seperti Bras Bayao yang pada tahun 1527 berada di Hindia. Dalam surat nya tahun 1540 Bayao tidak membedakan Sunda dengan Banten dengan menulis “Francisco de Sa tertimpa badai sewaktu menuju Bamta dan terbawa arus sampai ke Jaoa (Jawa). Pada bulan September Francisco de Sa datang kembali dan mencapai Cumda, dan di tanjung Bamta ini Francisco de Saa mendirikan padrao. Pedoman pelayaran tahun 1528 yang juga ditulis oleh peserta ekspedisi menyebutkan, pelabuhan SumdaBata tempat kami akan mendirikan benteng. Sumdabamta atau Bamta dan keterangan tempat pada dokumen tersebut jelas menunjukkan Banten. Dokumen yang lebih terpercaya berasal dari surat Francisco de Sa tentang ekspedisi yang dibuat pada 10 september 1527 atau tiga hari setelah kembali ke Malaka. “Saya tiba di pelabuhan Bamta (chegui ao porto de bamta)”, tulis De Sa saat menceritakan suka duka perjalanannya menuju Banten. Beberapa tahun kemudian Mendez Pinto beberapa kali menyebut Bantam dan rajanya sebagai Raja Cumda. Gulliot beberapa kali menekankan bahwa Raja Sunda dalam perjanjian adalah penguasa Banten.
2) Henrique Leme Tidak Berunding di Kalapa dan Tidak Pula Mendirikan Padrao di Kalapa-Jakarta Jika dibaca dengan teliti teks perjanjian memang mencatat bahwa Leme dan para menteri yang berada di Pelabuhan Sunda berangkat untuk mendirikan padrao di suatu tempat bernama Calapa. Jadi jelas porto de Cumda dan Calapa adalah dua tempat yang berbeda. Mereka berunding di Pelabuhan Sunda (Banten), kemudian mendirikan padrao di Kalapa. Jika saat itu Leme berada di Pelabuhan Kalapa tidak mungkin diberitakan bahwa ia akan pergi ke satu tempat yang bernama Kalapa. Buku pelayaran yang dibuat oleh salah seorang peserta ekspedisi de Sa tahun 1528 menyebutkan, setelah dari Pelabuhan Sunda-Banten mereka menyusur ke arah Timur sampai ke sebuah tanjung dimana terdapat sungai mengalir ke Laut. Disanalah De Sa mendirikan padrao lain (karena dia mendirikan padro dua kali). Sungai itu dinamakan Santo Jorge yang oleh orang-orang hitam disebut Cidigy. Rouffaer dan Cartesso yang mengenal peta pelayaran tersebut sepakat mengidentifikasi sebagai sungai Cigede. Tom Pires menyebut dari barat ke timur; Bantam, Pontang, Cheguede, Tamgara (Tangerang) dan Kalapa. Barros mengurutkan dari timur ke barat masing-masing Xacatara por outre Caravam (Jakarta yang juga bernama Karawang), Tamgaram (Tangerang), Cheguide, Pondang (Pontang) dan Bintam (Banten).
Menurut Gulliot Kalapa yang disebut dalam notaris diperkiraan berada dekat pelabuhan Cigede sekitar kampung Mauk. Kemungkinan lain Kalapa bukanlah nama kota tetapi satu lahan di perbatasan antara Banten-Kalapa Jakarta yaitu Senopati (Tangerang). Penemuan padrao di kawasan lama kota Jakarta tahun 1918 yang diyakini De Haan sebagai milik Leme, kemudian disimpulkan bahwa utusan Portugis mendirikan padrao di Kalapa Jakarta. Padahal sumber sejamannya memberikan keterangan yang sama sekali berlawan dengan penafsiran tersebut. Disinyalir batu berukuran setinggi dua meter dan berat sekira seratus kilogram dipindahkan ke lokasi ditemukan, mengingat waktu didirikan dengan saat ditemukan terpaut hampir empat ratus tahun. Jadi prosesi penandatangan perjanjian Leme- Pejabat Sunda, pendirian padrao tahun 1522, dan kedatangan de Sa ataupun penyergapan armada Coelho tahun 1527 semua peristiwa terjadi di pelabuhan Sunda-Banten bukan Kalapa Jakarta. Barros satu-satunya kronika Portugis yang menyebut Kalapa, padahal penulis lainnya mencatatkannya Pelabuhan Sunda.
3) Nama “Raja Sunda” Pelaku Perundingan Akta Notaris mencatat “Raja Sunda” penandatangan perjanjian bernama Ragee Mulydiar, tetapi Barros menyebut “Samiam” atau Sanghyang. Istilah Sanghyang yang beberapa kali ditulis dalam Sejarah Banten menurut Husein Djajadiningrat merupakan gelar bangsawan atau jabatan yang tidak dapat disandangkan pada seorang raja. Karenanya sulit diterima bahwa penguasa Sunda tersebut bernama Ragee Mulydiar yang merupakan pengeliruan dari Raja Mudyliar, gelar Tamil yang biasa dipakai saudagar besar asal pantai Coromandel. Gelar ini juga lazim dipakai saudagar Keling di Malaka. Tidak ada data primer ataupun sumber sejaman yang mengabarkan bahwa penguasa Banten waktu itu orang asing asal Tamil. Gulliot mengingatkan, nama Moleiquer(v)e atau Mulydiar yang dilaporkan Francois de Sa merupakan gelar seorang syahbandar (menteri) Banten asal keling. Dialah yang mengadakan perundingan dengan Portugis. Artinya penandatangan perjanjian dari Pihak Sunda bukanlah benar-benar seorang penguasa tertinggi negeri yang biasa disebut sebagai Raja. Dapat dimengerti jika Gulliot selalu membubuhi tanda kutip setiap kali menulis “Raja Sunda” dalam menjelaskan naskah perjanjian tersebut. (Bersambung)



Posting Komentar untuk "KERAJAAN SUNDA, BANTEN, PELABUHAN KALAPA MENURUT EJAAN CLAUDE GUILLOT (2)"