KERAJAAN SUNDA, BANTEN DAN PELABUHAN KALAPA MENURUT EJAAN CLAUDE GULLIOT (1)
Selain sering diitentikkaan sebagai Kerajaan Pajajaran ataupun Pakuan Pajajaran, terdapat beberapa pandangan yang melekat pada masyarakat mengenai Kerajaan Sunda antara lain (1)Wilayahnya meliputi daerah yang kini menjadi Propinsi Jawa Barat, Banten dan Jakarta, (2) Ibu kotanya di Bogor atau biasa disebut Pakuan, (3) Berperang sebanyak limabelas kali dengan Cirebon dan diserang pasukan gabungan Demak-Cirebon pada periode yg lain, (4) Pelabuhan Kalapa yang menjadi lokasi perjanjian Portugis-Sunda berada di muara Sungai Ciliwung wilayah Jakarta sekarang dan (5) Banten didirikan oleh Sunan Gunung Jati pada 1526. Berpuluh dekade pemahaman tersebut membentuk kesan seolah Sunan Gunung Jati merebut Banten dari kekuasaan Raja Sunda melalui tindakan militer. Pelabuhan Kalapa juga terlampau diidentikkan berada di kawasan Jakarta saat ini. Belakangan anggapan ini mendapat 'koreksi' dari sejarawan Perancis Claude Guillot yang bersama sejumlah Tim telah menelaah dengan kajian mendalam, termasuk melakukan serangkaian penggalian artefak. Menurutnya persepsi mayarakat tidak sepenuhnya sesuai dengan temuan dan bukti arkeologis yang didapat dari penelitian, juga tidak sepenuhnya terdukung oleh catatan yang lebih valid berupa manuskrip ataupun dokumen semasa.
Bias pemahaman bermula dari sikap sejarawan yang terlampau bertumpu pada telaah Husein Djajadiningrat penulis Tinjauan Kritis Sejarah Banten, sehingga muncul semacam fanatisme bahwa semua kesimpulan dalam buku tersebut diangap benar. Lebih dari delapan dekade sejak diterbitkan tahun 1913 di Haarlem Disertasi ini menjadi acuan utama penulisan sejarah kerajaan Sunda Banten. Padahal sebagaimana diulas Claude Gulliot dalam Banten, Sejarah dan Peradaban Abad X-XVII, karya Husen dikritik terutama karena banyak menggunakan sumber Portugis yang tidak selektif, terbatas atau singkat bahkan acap kali kabur dan saling bertentangan satu sama lain. Sejarawan Perancis ini menilai Tinjauan Kritis Sejarah Banten sangat mengabaikan bahkan menyanggah sumber setempat (lokal) seperti Sejarah Banten atau Hikayat Hasanuddin yang sesungguhnya lebih lengkap. "Djajadiningrat sampai pada sebuah kesimpulan keliru yang menyanggah teks yang sebenarnya paling lengkap, yaitu Sejarah Banten", tulis Gulliot.
Gulliot menunjuk salah satu pendapat Djajadiningrat yang dinilainya kurang tepat misalnya, tanpa penjelasan memadai Tinjauan Kritis meriwayatkan bahwa atas perintah Sunan Gunung Jati pasukan bersenjata Kerajaan Demak pertama-tama merebut Pelabuhan Kalapa, kemudian menempatkan seorang raja muslim di banten pada tahun 1526/27. Disimpulkan pula bahwa pada awal abad ke-16 wilayah Kerajaan Sunda terbentang di seluruh bagian barat Jawa, dan beribukota Pakuan dengan pelabuhan utama Kalapa di Jakarta masa kini. Sebaliknya kronik Sejarah Banten yang ditulis di bawah naungan keturunan Sunan Gunung Jati meriwayatkan, didampingi oleh putranya Hasanuddin, Wali yang dikenal sebagai Syekh Maulana ini meninggalkan Cirebon-Demak langsung menuju pelabuhan Banten, kemudian masuk Ibu kota Banten Girang untuk selanjutnya mendatangi Gunung Pulasari yang menjulang di Teluk Lada. Pulasari merupakan kawasan keramat Kerajaan Banten Girang dan penting bagi keduanya untuk menaklukannya secara batin. Hasanuddin kemudian menjadi pemimpin kelompok spiritual dan mengislamkan komunitas di wilayah tersebut. Karena ketiadaan penguasa yang sah saat itu, kemudian atas bantuan Kesultanan Demak Hasanuddin diangkat penguasa Kerajaan di Banten.
Koreksi terhadap Tinjauan Kritis Sejarah Banten tidak semata didasarkan kajian literatur tetapi juga hasil penelitian lapangan yang dilakukannya bersama tim dari tahun 1988 hingga 1992. Tujuan utama penggalian arkeologis di sejumlah situs purbakala Banten Girang, atau sepuluh kilometer pinggiran kota Serang ini sebagai upaya memastikan tingkat kevalidan dua versi sejarah antara penafsiran Husein Djajadiningrat dan kronika Sejarah Banten yang disusun oleh dinasti kesultanan Banten. Tahun 2008 hasil penelitian dan kajian yang merupakan ejaan dan persfektif baru dalam memahami sejarah 'Kerajaan Sunda' ini diterbitkan Gramedia kerjasama Ecole Francaise d'Extreme-Orien, Forum Jakarta-Paris dan Pusat Penelitian Dan Pengembangan Arkeologi Nasional. Mengeja Ulang Sejarah meringkaskan point-poin hasil kajian Claude Gulliot dan Tim sebagai berikut ;
Banten Kerajaan Sunda Bercorak Pesisir
Sunda adalah nama yang merujuk pada kerajaan pesisir dan bukan pedalaman. Didirikan Tahun 923 M di bawah naungan Sriwijaya dengan ibukota terletak di Banten Girang. Wilayahnya terbentang di seluruh pesisir yang membatasi Laut Jawa dan Selat Sunda, dari Bogor sampai ke Gunung Pulosari. Artinya bentangan wilayahnya tepat mencakup kawasan yang sebelumnya masuk Kerajaan Taruma, seperti Kerajaan Islam Banten yang dirumuskan Sunan gunung Jati enam abad kemudian yang mencakup seluruh wilayah bagian barat Sungai Citarum. Berdasarkan kajian arkeologis, kebersamaan waktu pendirian Istana Banten Girang dan pembangunan Candi Siwa di Gunung Pulosari yakni abad ke-10 serta corak yang sama pada kedua situs menunjukkan bahwa kota tersebut merupakan ibukota kerajaan pesisir yang dibangun oleh orang-orang asal Jawa Tengah.
Prasasti Kebon Kopi II yang ditemukan di Bogor (untuk membedakannya dengan Prasasti Kebon Kopi I Taruma Nagara) merupakan peringatan mengenai pendirian kerajaan yang berpusat di Banten Girang. Penggunaan Bahasa Melayu pada prasasti yang berisi pengumuman kembali bertahtanya Raja Sunda tahun 923M ini menurut tafsiran Bosch merupakan bukti pengaruh Kerajaan Melayu Sriwijaya. Kesesuaian waktu pendirian kerajaan Banten Girang dengan yang disebut 'Kerajaan Sunda' secara mencolok menunjukkan bahwa sesungguhnya Kerajaan Banten Giranglah yang dimaksud sebagai Kerajaan Sunda. Pada periode tersebut tidak ada kerajaan lain di kawasan ini kecuali Banten Girang. Selain itu nama tempat Sunda yang kini dipersepsi untuk seluruh bagian barat Pulau Jawa, hingga abad 16 hanya digunakan untuk dataran pesisir wilayah Banten.
Argumen Gulliot diperkuat sejumlah naskah seperti catatan Zou Rugua yang awal abad 13 menamai Sin-to'a (Sunda) dan daerah sekitarnya untuk tempat lada ditanam. Oleh karena Banten dari dahulu menjadi satu-satunya daerah penghasil rempah ini, semua sejarawan sepakat mengidentifikasi kota Sunda ini sebagai Banten. Panduan pelayaran China bertajuk Shinfeng Xiansong sekitar tahun 1500 menggunakan 'Wantan' (Banten) dan Shun-t'a (Sunda) sekaligus. Di era yang sama ahli geografi Arab Ibnu Majid dan Ibnu Sulaiman menamai Sunda untuk pelabuhan paling barat pesisir utara Jawa yang artinya hanya cocok untuk Banten. Begitu pula peta-peta kuno Portugis menyangkut Jawa Barat, nama Sunda bukan menerangkan daerahnya tetapi muara sungai di ujung barat pesisir utara Jawa. Oleh pembuat peta muara ini sengaja diperbesar agar dapat dimengerti bahwa yang dirujuk adalah pelabuhan. Teks-teks Portugis lebih sering menyebut Banten dengan nama Sunda, terkadang Bantam atau Sunda Bantam. Namun begitu, diduga orang Portugis pula yang pertama membuat informasi menyesatkan karena menggunakan nama yang sama yakni Sunda untuk menunjuk keseluruhan Jawa Barat. Di penghujung abad 16 orang Belanda saat pelayaran mereka ke Hindia kemudian mengklarifikasi dengan menulis "Sunda adalah pelabuhan Banten beserta bagian paling barat Jawa tempat tumbuhnya tanaman lada".
Kesimpulan Gulliot bahwa yang dimaksud Kerajaan Sunda adalah Banten atau sebaliknya Kerajaan Banten adalah Sunda bercorak pesisir tercermin pada catatan pelancong Portugis Tome Pires yang mendokumentasikan kesaksiannya sebagai berikut; "...Sunda adalah tanah para ksatria (Jawara) dan pelaut, keduanya lebih terkenal dari ksatria dan pelaut Jawa. Pria Sunda berwajah rupawan berperawakan gelap...". Penulis Suma Oriental ini juga menjelaskan, orang Sunda sering pergi ke Malaka untuk berdagang menggunakan lancara kargo bermuatan 150 ton. Mereka memiliki Enam Jung dan lancara khas Sunda dengan anak tangga dan tiang kapal berbentuk bangau. Berkulit gelap, kejawaraan (straria) juga pelaut lebih identik dengan masyarakat Banten di pesisir ketimbang kaum petani di pedalaman (Bersambung)
.

Posting Komentar untuk "KERAJAAN SUNDA, BANTEN DAN PELABUHAN KALAPA MENURUT EJAAN CLAUDE GULLIOT (1)"